Pos blog pertama

Pemanfaatan Jagung Untuk Menghasilkan Nilai Ekonomis

Jagung merupakan tanaman biji-bijian yang berasal dari daratan Amerika dan menyebar ke daratan Asia dan Afrika melalui jalur perdagangan yang dilakukan oleh bangsa Eropa. Menurut catatan sejarah, jagung masuk ke Indonesia sekitar abad ke-16. Penyebaran jagung ke seluruh pelosok dunia tidak terlepas dari besarnya manfaat yang berikan kepada manusia dan hewan.
(Nus and Tanumihardjo 2010:…) dalam Cahyuni Novia; Syaiful; Deny Utomo mengatakan bahwa “jagung merupakan tanaman pokok yang menyediakan 60% dari total produksi pangan dunia.” Ada banyak sekali olahan-olahan yang berbahan dasar jagung, khususnya sebagai makanan pokok. Jagung merupakan makanan pokok ketiga setelah gandum dan padi. Demikian pula (Aydinsakir 2013:…) dalam Cahyuni Novia; Syaiful; Deny Utomo mengatakan bahwa “ jagung adalah makan ketiga paling penting setalah gandum dan padi.” Jika kita analisis, maka pendapat dari Aydinsakir memang betul. Jagung merupakan makanan pokok selain padi. Bagi sebagian orang jagung sudah menjadi makan pokok pengganti nasi. Hal ini kebanyakan pada kalangan petani. Bukannya mereka tidak punya beras, namun mereka menyeimbangkan antara nasi dan jagung sebagai makanan.
Selain produk yang siap dikonsumsi, jagung juga memiliki banyak fungsi. Mulai dari sebagai makanan pokok manusia, juga sebagai makan pokok bagi sebagian hewan contohnya ayam, ikan dan juga burung. Batang jagung bisa dimanfaatkan sebagai makan sapi. Jagung tua bisa dimanfaatkan sebagai makan ayam. Selain itu, juga sebagai dedak bagi ikan-ikan. Terlebih pada isi jagung itu sendiri. Ada berbagai macam olahan dari buah jagung itu sendiri misalnya sebagai pop corn, bassang bagi masyarakat Sulawesi Selatan, jagung bakar, pudding jagung, jagung yang digiling yang pada masyarakat Muna disebut sebagai “katumbu” dan masih banyak lagi fungsi lainnya dari jagung.
Dalam usaha meningkatkan daya guna jagung, maka perlu dilakukan diversifikasi pengolahan produk pangan asal jagung. Produk pangan yang dimaksud merupakan bahan olahan setengah jadi maupun siap dikonsumsi. Bahan olahan tersebut harus disukai oleh konsumen dan secara ekonomis pengolahan bahan tersebut mempunyai efisiensi yang tinggi. Proses pengolahan produk terbilang cukup sederhana. Sehingga berpeluang bagi masyarakat khususnya pedesaan terutama wanita tani sebagai industry rumah tangga. (Agato and Narsih 2011:…) Cahyuni Novia; Syaiful; Deny Utomo. Misalnya, batang jagung dapat dijadikan sebagai pakan ternak. Batang dan daun yang telah tua dapat dijadikan sebagai kompos tanaman atau pupuk hijau. Batang dan daun dapat dijadikan sebagai kayu bakar. Batang jagung jika diolah lebiih baik bisa menjadi lanjaran (turus) dan pulp (bahan kertas). Untuk buah jangung muda dapat diolah menjadi sayuran, bakwan ataupun perkedel. Dan untuk biji jagung tua dapat dijadikan sebagai pengannti nasi, brondong, roti jagung, tepung, bihun, bahan campuran bubuk kopi, biscuit, kue kering, pakan ternak, bahan baku industry bir, industry farmasi, dextrin, peekat, industry tekstil, dan lain-lain. Dengan begitu, jagung bisa dikatakan memiliki nilai produksi yang tinggi.
Namun permasalahannya saat ini adalah pada sebagian masyarakat masih mengolah jagung dengan cara yang sangat sederhana. Hanya sebatas pada olahan secara mentah yang hasilnya itu tidak maksimal dan terbilang cukup murah. Yakni mereka mejual secara mentah tanpa pengolahan yang lebih halus terlebih dalulu. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman tentang jenis lain yang dihasilkan dari produk jagung. Mereka hanya bisa menjual dalam bentuk segar atau hanya dikeringkan saja. Padahal hanya dengan sentuhan teknologi yang jagung dapa menjadi produk olahan nilainya lebih tinggi.
Lambannya akses informasi yang masuk kepedesaan dan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap membuat masyakarakat ketinggalan informasi-informasi penting yang telah dan sedang berkembang. Selain itu tingkat pendidikan juga berpengaruh terhadap pola pikir masyarakat dalam mencipkan kreasi-kreasi baru dalam pengolahan makanan.
Permasalahan lainnya adalah peningkatan produksi jagung pada saat panen tidak sebanding dengan harga jual. Sehingga harga tersebut lebih murah dan sangat jauh dari harga normal. Kondisi tersebut memaksa para petani menjual jagung dalam bentuk segar karena terdesak oleh kebutuhan. Bahkan ditemukan juga jagung yang tidak dijual, tetapi dijadikan akan ternak. Ditinjau dari aspek social budaya masyarakat setempat, banyaknya jagung yang tidak terjual atau hanya menjadi pakan ternak sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dari petani pendahulunya dan belum adanya sarana prasarana yang menandai dalam mengakses informasi secara cepat.
Maka solusi dari permasalah ini adalah menuntun masyarakat agar memanfaatkan media social untuk memperoleh informasi dalam mengembangkan pengetahuan mengenai pengolahan jagung yang baik agar menghasilkan nilai jual yang tinggi. Selain itu, mereka juga bisa memanfaatkan media social sebagai tempat untuk membuat kreasi yang baru. Misalnya dengan memanfaatkan media social untuk melihat pebuatan pudding jagung, dodol jagung, jagung bakar pakai bumbu,kur jagung, keripik jagung, dan berbagai macam olahan lainnya. Mereka bisa mengembangkan itu dan mulai memprakterkkannya. setelah itu mereka bisa menjualnya ke lingkungan sekitar, sehingga bukan hanya jagung segar yang dijual namun makanan yang berbahan dasar sama yang dikemas seara unik dan menarik. Sehinga banyak konsumen yang mulai tertarik.
Masih dengan media yang sama, bukan digunakan untuk mengembangkan diri, namun juga media social juga bisa digunakan untuk berpromosi mengenai produk-produk yang dijual. Hal ini bisa lebih menghemat waktu dan tenaga. seperti pendapat dari (Hidayatullah 2016:…)dalam Cahyuni Novia; Syaiful; Deny Utomo bahwa “ media social adalah sebuah media online dimana penggunanayanya bisa dengan mudah ber-partisipasi, berbagi dan menciptakan isi meliputi blog, social net-work atau jejaring social (facebook, twitter, instagram dan sebagainya) , wiki, forum dan duni virtual.

Maka dari itu, masyarakat bisa mengguanakan media social sebagai alat untuk berjual beli. Media social memberikan banyak kemudahan, khususnya bagi para penjual. Mereka tidak harus pergi ketempat secara langsung untuk memasarkan produknya, namun cukup dengan memposting dimedia social. Selain itu keuntungannya adalah banyak orang yang melihat postingan tersebut maka akan semakin bertambah banyak pula pelanggan. Tidak hanya itu, bisa jadi para calon pembeli bukan hanya berasal dari dalam daerah tetapi juga ada yang dari luar daerah. Ini adalah peluang yang bagus untuk memasarkan produk. Tidak perlu memiliki keahlian khusus untuk menggunakan media social dalam berniaga. Akan tetapi, cukup hanya dengan bermodalkan handphone adroid dan paket data maka itu akan sangat membantu dalam proses perniagaan. Dengan begitu, para pedagang online bisa memperkenalkan sekaligus memasarkan produknya. Agar banyak orang yang tahu akan produk yang dijual dan semakin banyak pelanggan yang datang berkunjung.

DAFTAR PUSTAKA

Novia, Cahyuni; Syaiful; Utomo. 2017. Kreativitas Masyarakat Dalam Diversivikasi Olahan Jagung Serta Pemanfaatan Media Social Sebagai Saran Promosi Produk. Jurnal Teknologi Pangan. 8(2):132-136.

Agato, and Narsih. “kreativitas Masyarakat Dalam Diversifikasi Olahan Jagung Serta Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Sarana Promosi Produk.” jurnal teknologi pangan. VIII(2) (2011:…): 132-136.

Aydinsakir. “kreativitas Masyarakat Dalam Diversifikasi Olahan Jagung Serta Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Sarana Promosi Produk.” jurnal teknologi pangan .VIII(2) (2013:…): 132-136.

Hidayatullah. “kreativitas Masyarakat Dalam Diversifikasi Olahan Jagung Serta Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Sarana Promosi Produk.” jurnal teknologi pangan. VIII(2)2016:…: 132-136.

Nus, and Tanumihardjo. “kreativitas Masyarakat Dalam Diversifikasi Olahan Jagung Serta Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Sarana Promosi Produk.” jurnal teknologi pangan. VIII(2)(2010:…): 132-136.

Bpppk Mertoyudan. 2013. Meningkatkan Nilai Tambah Jagung Melalui Pengolahan.[Internet].Bppkmertoyudan.blogspot.com/2013/07/meningkatkan-nilai-tambah-jagung.html?=1

Syahyuti. 2012. Karateristik Social Ekonomi Jagung. [Internet]. Sayahyutijagung.Blogspot.com/2012/09/karateristik-sosial-ekonomi-jagung.html?m=1

Beritani.com. 2016. Mengenal Tanaman Jagung. [Internet]. Beritani.com/2016/11/28/mengenal-tanaman-jagung/